Israiliyat

Israiliyat


A. PENGERTIAN ISRAILIYAT

Secara etimologi, israiliyat (اإلسرائيليات) adalah bentuk jamak dari Isra’iliyyah (اإلسرائيلية) yaitu ismun (kata benda) yang dinisbatkan pada kata Israil, dari bahasa ibrani yang berarti hamba Tuhan.

Secara terminologi, term Isra’iliyyat ada beberapa ulama al-Qur’an yang mendefinisikannya. Ada yang mnejelaskan bahwa Isra’iliyat adalah kisah atau peristiwa yang diriwayatkan dari bani Isra’il. Ada juga mengatakan kisah-kisah yang dikutip dari sumber agama yahudi Nasrani dan agama-agama lainnya (Taurat, Injil, Talmud, dan kitab-kitab suci lainnya). 

Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa Isrâiliyyât memiliki dua kemungkinan:

1. Kisah dan dongeng kuno yang diselipkan ke dalam tafsir dan hadis yang mana asal riwayatnya kembali kepada sumbernya, yaitu dari Yahudi, Nasrani dan lainnya.

2. Cerita atau kisah yang sengaja disisipkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadis yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam sumber-sumber terdahulu maka yang demikian adalah buatan dari musuh Islam.

Dari pengertian-pengertian diatas, dapat dipahami bahwa Isra’iliyyat merupakan cerita atau dongeng yang bersumber dari cerita-cerita Yahudi yang dibawa oleh para pendeta Yahudi atau para Mu’allaf yang berasal dari Yahudi


B. KISAH-KISAH ISRAILIYAT DALAM TAFSIR

Berikut ini kisah Israiliyat ada Tafsir Ibn Katsir dalam Surah al-Baqarah

1. Kisah Penciptaan Khalifah di muka bumi 

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30)

Ibnu Katsir mengemukakan riwayat israiliyat. Di antaranya riwayat dari Ibn Abu Hatim yang mengatakan bahwa ada malaikat yang bernama As-Sijl yang setiap hari tiga kali melihat ummul kitab,tiba tiba ia melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya yaitu penciptaan 

Adam, kemudian malaikat ini memberitahukan kepada Harut dan Marut, sehingga ketika Allah menyampaikan saya ingin menciptakan khalifah di bumi, maka mereka menjawab mengapa engkau ingin menciptakan di bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? keduanya mengatakan ini untuk melebihi malaikat malaikat yang lain. Setelah menyampaikan riwayat ini Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa riwayat ini garib yang merupakan kisah israiliyat yang mungkar karena riwayat ini menyatakan bahwa yang menyanggah firman Allah “akan menciptakan khalifah di bumi” hanya dua malaikat sementara dalam teks al-Qur’an itu bentuk jamak. Ibnu Katsir juga menjelaskan riwayat yang disampaikan Ibnu Abi Khatim bahwa jumlah malaikat yang menyanggah firman Allah itu sepuluh ribu malaikat, dia mengatakan bahwa riwayat ini adalah riwayat israiliyat yang munkar.


2. Kisah tentang Penciptaan Hawa

وَقُلۡنَا يَٰٓئَادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُـلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Dan Kami berfirman, "Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!." (QS. Al-Baqarah:35)


Dalam menafsirkan ayat ini tentang penciptaan Hawa, Ibnu Katsir menyampaikan riwayat dari Ibnu Ishaq berdasarkan keterangan dari ahli kitab yaitu kitab taurat dan dari kalangan ahlul ilmi dari Abdullah bin Abbas bahwa disaat Adam tertidur Allah mengambil tulang iganya sebelah kiri kemudian menciptakan Hawa. Mengenai riwayat ini, Ibnu Katsir tidak memberikan penilaian apakah termasuk israiliyat yang sesuai dengan Islam atau tidak, dalam hal ini Ibnu Katsir tidak membenarkan dan tidak menyalahkan.

3. Kisah Sapi Betina (QS. Al-Baqarah 67-74)

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat israiliyat di antaranya berasal dari Ubaidah bahwa seorang yang kaya raya pada zaman bani Israil tapi tidak memiliki keturunan, ahli warisnya hanya seorang anak laki laki dari saudara laki lakinya. Untuk mendapatkan warisan dengan cepat dia membunuh pamannya dan meletakkan di depan pintu salah seorang dari kaumnya dan kemudian paginya sipembunuh menuduh pemilik rumah yang membunuhnya, sehingga hampir terjadi perang diantara mereka namun seseorang menyarankan untuk bertanya kepada Nabi Musa, maka nabi Musa memerintahkan “sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih sapi betina, tapi karena banyaknya pertanyaan dari bani Israil sehingga syarat sapi yang akan disembelih menjadi berat dan pemilik sapi itu seorang wanita tua yang banyak memelihara anak yatim.

Ada juga riwayat berasal dari Abu Aliyah yang hampir sama riwayat di atas cuma dalam riwayat ini yang membunuh hanya disebutkan salah satu kerabatnya dan meletakkan di perempatan jalan, kemudian datanglah pembunuh ini kepada nabi Musa mengadukan hal ini dan pura pura bersedih. Disebutkan juga riwayat lain yang bersumber dari as-Sadi kisahnya hampir juga sama, cuma dalam riwayat ini yang terbunuh itu seorang yang kaya raya dan punya satu anak perempuan kemudian keponakannya yang miskin melamar anaknya tapi ia tidak mau sehingga keponakan ini membunuh pamannya agar bisa menikahi anak dan mendapatkan warisannya dan pemilik sapi betina dalam riwayat ini adalah seorang anak laki laki yang sangat berbakti kepada ayahnya. 

Setelah menyampaikan riwayat riwayat israiliyat di atas maka Ibnu Katsir mejelaskan bahwa riwayat yang bersumber dari Qatadah, Abu Aliyah dan as-Sadi tersebut merupakan riwayat israiliyat yang dikategorikan dapat dinukil namun tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh didustakan sehingga riwayat ini tidak boleh dijadikan pegangan kecuali yang sesuai dengan kebenaran dalam ajaran Islam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemahaman Bermakna dan Pertanyaan Pemantik

Kumpulan Soal Budaya Melayu Riau (BMR) Kelas VI

Perencanaan Pembelajaran SD/ Paket A

Materi Sekolah Islam Gender (SIG)

MATERI KULIAH

Hadits Tarbawi tentang Peran Orangtua dalam Pendidikan

DAFTAR ISI

Merdeka Belajar; Asas Trikon

Perempuan dan Gender